Feb 7, 2011

Penderitaan dan Keajaiban Hidup Sehari-hari

Keajaiban itu bisa berarti ketika kita makin dekat dengan Tuhan, dengan segala doa, segala upaya kepatuhan dan kesetiaan. Tapi juga berarti kita menyatu dengan Tuhan, dan tetap bisa memaknai tanda-tanda yang diberikan dan tetap hidup dalam kenyataan sehari-hari. [hlm. 235]


Membaca Horeluya akan mengajak pembaca masuk ke dalam kesederhanaan hidup, masuk dalam keseharian manusia. Penderitaan yang menjadi tema sentral novel ini mengajak pembaca menentukan sikap mau menyerah (pasrah) atau menolak, berontak dan mengutuk Tuhan. Namun Horeluya menampilkan sisi lain dari realitas penderitaan. Di dalamnya orang masih bisa menemukan kejaiban. Bagaimana analisa teks menemukan dan sampai kepada keajaiban itu?

Novel ini oleh penerbit dikategorikan sebaai Novel Dewasa. Entah apa maksudnya. Mungkin memang diperlukan pembaca yang dewasa untuk menemukan makna dan ‘pelajaran’ dari teks yang disajikan ini. Maka analisa naratif menjadi proses awal menganalisa Horeluya. Analisa itulah yang semakin memperkaya dan menegaskan otonomi teks. Arwendo sendiri pernah menulis, “Rasanya resensi itu menambah informasi, apalagi tambahan sinopsis yang pas. Ini yang selama ini saya percayai sebagai kreativitas publik. Bukan hanya pengarang atau seniman atau penyair yang berproses secara kreatif.” Analisa, sinopsis, atau resensi dan segala macamnya adalah sebentuk kreativitas pembaca yang mengambil jarak terhadap teks.

Horeluya mengisahkan dengan cerdas Lilin, anak perempuan berumur 5 tahun, yang mengidap penyakit langka berupa kelainan darah yang hanya bisa disembuhkan melalui transfusi dari donor dengan golongan darah yang sejenis. Lilin memiliki golongan darah rhesus negative dan tak mampu memproduksi sel-sel darah putih. Gangguan kecil atau lingkungan yang tidak kondusif bagi kesehatan akan sangat mungkin bisa memperburuk kondisi Lilin. Itu disebabkan karena tubuhnya tidak bisa lagi memproduksi kekebalan tubuh. Hanya satu jalan keluar agar nyawa Lin bisa selamat yakni transfusi dari golongan darah yang sama. Sayangnya, jenis darah Lilin tergolong jenis yang langka. Oleh dokter, Lilin telah divonis bahwa tak akan hidup lebih dari 3 bulan lagi jika tidak segera mendapatkan donor. Kokrosono dan Eca, istrinya, orang tua Lilin, telah mencari dan berusaha menemukan segala cara demi kesembuhan anak tunggalnya.


Keadaan sepertinya tidak menjadi lebih baik karena tidak ada jalan keluar yang diperoleh. Sebagai keluarga katolik yang taat, Eca dan Kokro, memanjatkan doa-doa, berharap terjadi sebuah keajaiban yang akan menyembuhkan Lilin. Keajabian itu diharapkan Eca dengan berdoa di sebuah gereja tua di kampung mereka, di depan goa Maria, memohon tidada henti demi kesembuhan putrinya tercinta. Kebiasaan Eca berdoa itu menjadi berita heboh di koran internasonal karena ternyata ada wartawan koran daerah (Adam) yang memotret dan memasang foto Eca yang sedang berdoa dengan judul ‘Menangis di depan Patung’ yang disertai tulisan, “Apakah di zaman yang sudah sangat modern ini masih perlu menyembah patung atau berhala? Apakah patung akan memberikan jawaban, ataukah ikut menangis darah tanda prihatin?

Keadanyaan ternyata menjadi lebih runyam. Derita Kokro dan Eca tidak hanya berhenti di situ saja. Kokro diberhentikan dari pekerjaannya di pabrik biskuit karena orang di bagian personalia tidak senang dengannya dan berusha menyingkirkannya namun dia bisa mengatasi karena ia punya usaha sampingan, usaha ‘letter’, usaha spanduk yang dirintisnya bersama Nayarana, adik lelakinya, yang tak pernah sepi dari pesanan. Naya yang dikenal sebagai preman, berperilaku sangar, namun disegani banyak orang, menjadi warna lain dan gambaran sikap realistis praktis, menembus sikap kalem Kokro kakaknya. Kehadiran Naya memberi warna lain dari kesedihan karena penderitaan yang seakan tiada habisnya. Naya digambarkan cuek, suka bergurau, keras. Namun di depan Lin ia menjadi pribadi yang sama sekali lain. Ia hanya bisa tenang dan berubah ketika di depan Lin yang baginya dianggap sebagai malaikat kecil.

Sekilas Horeluya menampilkan cerita yang tidak sangat istimewa, namun dengan segala “kesederhanaan” realis yang ditampilkannya, justru menjadi kekuatan novel realis ini. Horeluya berangkat dari kehidupan sebuah keluarga yag sangat terlihat Jawanya. Digambarkan dalam keluarga Kokro tinggal juga adiknya, Naya dan Ade, adik istrinya. Inilah yang khas dalam msayarakat Jawa, dalam keluarga tidak hanya keluarga inti saja melainkan tinggal juga ada anggota lain seperti adik, kakak, atau paman dan bibi demi menjaga hubungan kekeluargaan. Penceritaan Arswendo yang santai dan kadang-kadang jenaka semakin memberi penggambaran yang nyata sehingga mengajak pembaca untuk tidak berhenti dan didorong ingin tahu akhir kisah.

Horeluya menampilkan bagaimana religiositas masyarakat Indonesia di kota kecil menghadapi pengalaman penderitaan dan bagaiman manusia selalu ingat akan Tuhannya. Namunkepasarahan tidaklah semudah yang dibayangkan. Ketika kita lari kepada Tuhan, penderitaan itu tetap nyata dan di depan mata. Perlu sikap hidup dan disposisi sikap yang jelas. Kokrosono menunjukkan bagaimana tegar dan menjalani semua dengan sepenuh hati dan tidak berputus harapan. Dalam Horeluya Arswendo menunjukkan bagaimana keajaiban itu nyata dan bekerja dalam kehidupan sehari-hari.

Lilin (biasa dipanggil Lin), Teresa Lilin Sekartaji lengkapnya, gadis kecil anak pasangan Kokro dan Eca, menderita penyakit kanker sumsum tulang belakang. Tubuhnya tidak mampu menghasilkan sel darah putih yang berakibat ia tidak memiliki kekebalan tubuh. Hidupnya diprediksikan tidak lama lagi. Dalam keluarga ini juga tinggal Naya, adik Kokro, seorang preman, mengurusi usaha sablon yg terkenal dengan usaha ‘letter’; juga tinggal Ade, adik Eca. Lilin menjadi pusat perhatian keluarga tersebut karena paling kecil yang bisa digoda dan dimanja. [hlm. 31]

Eca adalah seorang ibu yang saleh dan mempunyai iman besar dengan tiap hari berdoa di depan patung Bunda Maria. Kokro, ayah lin, masih ingin mempunyai iman seperti istrinya, namun juga merasa kering dan gelap. Ia dan adiknya, Nayarana, pernah mengalami kepedihan yang mematikan, tapi kini merasa gamang. Kokro dan Naya menjadi yatim piatu sejak ayah dan ibunya dibunuh pada tahun 1965. Segala upaya manusiawi, juga segala doa, berlomba dengan usia Lin yang diramalkan secara medis hanya bertahan beberapa bulan. Keinginan Lin terakhir adalah bis merayakan Natal –sebelum waktunya, karena usianya tak sampai bulan Desember-dengan turunnya salju. Sesuatu yang sama mustahilnya, karena desa itu yang turun adalah hujan, dan tak ada gua atau pesta.

Setelah divonis dokter bahwa hidup Lilin tidak akan lama lagi jika tidak ada pendonor membuat semua keluarganya was-was. Kondisi Lin harus senantiasa dijaga supaya tidak drop kesehatannya. Semua menjaga Lilin supaya tidak kepanasan, mudah capek. Semua yang diminta Lin coba dituruti. Juga ketika menjelang bulan Desember ia minta merayakan Natal di rumah, tidak di gereja atau di sekolah. Namun hal itu bukan yang menjadi masalah. Yang menjadi pemikiran adalah ia minta Natal kali ini ada saljunya. Inilah yang sulit, mana ada salju di daerah tropis, seperti Indonesia.
Nayarana sang paman yang diminta langsung oleh lilin dibuat pusing. Lilin tidak mau jika hanya salju-saljuan dari es batu. Namun akhirnya Naya mendapatan ide dan pada hari Natal, jalan menuju rumah lilin dihisasi lampu-lampu. Siti, sahabat Ade, anak kursusan Eca, Eka diarak sebagai Bunda Maria yang mencarai tempat penginapan mampir ke rumah Lilin untuk menumpang. Tidak hanya itu seluruh kampung juga bergembira dan merayakan Natal demi Lilin. Salju yang dijanjikan datang juga dalam kapas-kapas tipis yang beterbangan di sekitar rumah Lin. Semuanya berteriak ‘hore hore….yang berubah menjadi horeluya’

Penderitaan semakin berat manakala Kokro, ayah Lin, dipecat dari perusahaan Wafer Lilin tempat ia bekerja karena pemilik pabrik mengalami pindah tangan dan terjadi pengurangan pegawai. Di tengah kesehatan Lilin yang tidak mengalami kejelasan penyembuhannya, pemecatan Kokro seakan melengkapi penderitaan keluarga itu. Pemecatan ini dilkukan secara bergelombang. Kokro dipecat dalam gelombang pertama karena berada dalam jabatan penting, marketing dan pemasaran. Jika kokro dan 15 karyawan lain diberhentikan terlebih dahulu dan tidak menimbulkan gejolak maka karyawan lainpun juga akan mudah diberhentikan. [hlm. 18]

Kebiasaan Eca, istrinya berdoa di depan patung Bunda Maria, juga menjadi berita heboh bernada sinisme di media internasional karena foto Eca ditampilkan di media internasional, oleh seorang wartawan foto bernama Adam, dengan judul “Menangis di depan Patung’. Berita ini mendapat rekasi luas. Naya sebenarnya marah dengan berita ini. Sebagai preman ia ingin memberi pelajaran kepada Adam. Namun istrinya sudah minta maaf dahulu kepada Kokro dan minta supaya Naya tidak membalas dendam atau bertindak kepad Adam.

Pemuatan foto Eca yang ‘Menangis di depan Patung” ternyata mendapat rekasi di kalangan luas, sampai ke luar negri. Banyak orang justru bersimpati. Seorang ibu asli dari Malaysia, Devi Effendi yang pernah bersuamikan orang Indonesia, ternyata bergolongan darah sama dengan Lin berniat menyumbangkan darahnya untuk Lin. Sayang ia ada di Kanada, tapi ia akan ke Indonesia untuk donor. Semua anggota keluarga Kokro senang dengan adanya kabar seorang pendonor untuk Lin. Namun mereka harus bersabar menunggu kedatangan Ibu Devi dari Kanada.
Simpati tidak hanya sampai di situ banyak donatur rela menanggung biaya tiket, rumah sakit dan akomodasi lainnya. Mulai dari pihak rumah sakit, Bupati, dan penyumbang lainnya. Jadilah Kokro, Eca, dan Lin berangkat ke rumah sakit di Jakarta sambil menunggu kedatangan Ibu Devi. Kokro mendapatkan ijin khusus dari perusahaan selama mengurus kesehatan Lin. Semua anggota keluarga merasa mendapat gairah setelah ada kabar pendonor untuk Lin.

Ada kabar lain yang juga menggembirakan bagi keluarga Kokro. Ia yang semula diberhentikan dari pekerjaan dipekerjakan kembali. Pemberhentiannya ternyata hanya akal-akalan bagian personalia yang tidak suka dengannya. Berita itu disampikan Musa, teman sekantor Kokro, “Sekarang terbongkar semuanya. Ketahuan belangnya. Siapa yang jahat akan terlihat. Ini surat panggilannya.” [hlm. 169]

Ibu Devi Effendi memang jadi akan datang. Ia tinggak di rumahnya di Malaysia. Namun malang, rumahnya dirampok dan ia mengalami luka yang cukup parah akibat tembakan perampok yang menyatroni rumahnya. Luka yang dialaminya mengakibatkan kondisi fisiknya tidak stabil dan tidak bisa melangsungkan donor bagi Lin. Lilin tahu bahwa donor dari Bu Devi tidak bisa dilaksanakan sekarang. Ketika mendengar dari ibunya ia bahkan berucap, “Bu, kalau Bu Devi perlu darah…darah Lilin bisa disumbangkan khan bu? …Lilin mau menyumbangkan darah untuk bu Devi…” [hlm. 208]. Semua memandangi. Takjub kepada Lin. Ucapan lilin, “Lilin mauuuu…”, menjadi hal yang mengharukan yang keluar dari mulur anak kecil,sepuluh tahun. Arswendo menggambarkan pengalaman menyentuh ini dengan koor malaikat menyanyikan lagi: “Lilin mauuuu…”
Devi Effendi terguncang [hlm. 212]. Mendengar ucapan Lilin, yang juga ditulis dalam surat kabar, Bu Devi merasa perlu untuk harus ketemu Sekar, panggilannya untuk Lilin. Ia merasa bahwa sepanjang hidupnya ia merasa tak banyak berarti. Ia berharta banyak, hidup serba kecukupan. Ia terguncang akan ketulusan Sekar dan membuatnya percaya ketulusan itu masih ada. [hlm. 214]. Hal itu tidak bisa terwujud karena kesehatannya tidak memadai. Maka dicari kompromi, Sekar dan keluarga, ayah, ibu dan Siti diundang dan dijemput oleh Antoni Effendi, anaknya, ke Malaysia untuk bertemu.

Perkataan Lilin “mauuuuu…” (yang ada dalam ilustrasi cover Horeluya) menjadi judul berita besar dan menggerakkan serta membesarkan hati. Berita itu bahkan sampai New York dan lembaga itu bisa menyediakan darah yang dibutuhkan Lin dan siap melakukan donor kapanpun. [hlm. 225]. Sementara Lilin bisa bertemu dengan Bu Devi mereka berjalan-jalan bersama ke Bali, Lombok, Bunaken. Donor memang belum terlaksana. Kokro Eca, Siti dan Lilin kembali ke Jogja. Ade dan Naya gembira mendengar perkembangan yang ada.

Tidak ada ‘akhir’ yang jelas dalam novel ini. Pembaca tidak tahu apakah in jadi mendapat donor dan sembuh. Di akhir novel hanya digambarkan bahwa Lin dan kedua orang tuanya mengalami keadaan bahagia bersama Ibu Devi dan menikmati liburan bersama sambil menunggu kondisi Ibu Devi membaik dan siap melakukan donor. Horeluya diakhiri dengan sebuah percakapan antara Naya dan Ade yang mengalami perubahan setelah peristiwa yang menimpa Lin dan bagaimana menyikapi peristiwa itu.

Naya juga merasa diubah dan ia berkata, “Keajaiban terasakan ketika ada pertolongan atas Lilin. Atau ketika saya menyadari Lilin menderita. Tetapi juga bisa berarti keajaiban ini karena kia merasakan, mengalami. Itulah keajaiban utama, dimana kita bisa menjadi bebas menjalani. Kita merdeka. [hlm. 235]. Adepun juga menyadari adanya keajaiban itu, “Keajaiban itu bisa berarti ketika kita makin dekat dengan Tuhan, dengan segala doa, segala upaya kepatuhan dan kesetiaan. Tapi juga berarti kita menyatu dengan Tuhan, dan tetap bisa memaknai tanda-tanda yang diberikan dan tetap hidup dalam kenyataan sehari-hari. ” [hlm. 235].

Lilin yang menjadi pusat perubahan, Naya menjadi orang yang diubah banyak pengalaman yang dilamai Lilin, keponakannya tercinta. “Sakit ini tak ada hubungannya dengan apakah Lilin berkelakuan baik atau buruk. Atau ayah-ibunya berkelakukan baik atau buruk. Penyakit Lilin bukan hukuman atau peringatan dari Tuhan. Jadi tak perlu menuntut ke Tuhan, atau mempertanyakan.” [hlm. 200]. Pengalaman Lin sakit menjadi pengalaman eksistensial bagi seluruh anggota keluarga. Misalnya saja Siti yang masih ragu apakah dia menyukai sesama jenis atau tidak pada akhirnya ia menyadari bahwa cinta sejatinya adalah Naya karena disamping Naya ia merasa menjadi wanita sejati.

Oct 14, 2009

Belajar dari Kerbau?


“Lari, lari, Saijah, teriak adik-adik Adinda, lari, ada macan!”


Kerbau Saidjah, terbawa oleh kecepatannya sendiri, terlewat beberapa loncatan dari tempat di mana tuannya kecil menunggu maut. Oleh kecepatannya sendiri, bukan dengan kemauannya sendiri binatang itu melewati Saijah, sebab baru saja ia mengalahkan gaya pendorong yang menguasaisegala benda, juga sesudah tidak ada lagi sebab musabab yang mendorongnya. Diapun berbalik, ia berdiri di atas kakinya yang umbang, tubuhnya yang umbang di atas anak itu, melindunginya dan dengan kepalanya yang bertanduk ia menghadapi macan itu. Biantang buas itu melompat, …tapi ia melompat untuk penghabisan kalinya. Kerbau itu menyambutnya dengan tanduknya, ia hanya kehilangan sedikit daging pada lehernya kena cakar oleh macan itu. Macan itu terkapar di tanah dengan perut terbuka, dan Saijah selamat.



Itulah sepengal kisah terkenal antara Saidjah dan Adinda dalam buku Max Havelaar karangan Multatuli yang terbit 1870, hampir 140 tahun yang lalu. Penggalan kisah di atas menunjukkan heroisme kerbau yang menyelamatkan Saidjah dari terkaman harimau. Lebih jauh, kerbau begitu berharga dalam kisah itu karena menjadi sumber penghidupan. Dengan kerbau sawah dapat dikerjakan. Tidak heran jika Ayah Saidjah begitu sedih ketika kerbaunya dirampas oleh pejabat kolonial. Bukan hanya sekali. Setiap kali dirampas, ayah Saidjah menjual benda berharga, mulai dari keris pusaka, kelambu, demi menggantikan kerbau yang dirampas.

Apa yang anda bayangkan jika mendengar kata kerbau? Mungkin akan terbayang sawah, petani, atau mungkin hewan yang jorok. Kerbau adalah binatang yang tidak begitu favorit. Kerbau diasosiasikan sebagai binatang yang bodoh. Dalam bahasa jawa ada ungkapan bodho longa-longo kaya kebo (bodoh tidak tahu apa-apa seperti kerbau). Kerbau (Latin: Bubalus Bubalis) adalah binatang memamah biak yang masih termasuk dalam subkeluarga bovinae. Binatang tidak diketahui persis asalnya tetapi banyak hidup di kawasan Asia Selatan.
Kerbau juga identik dengan binatang yang dikonotasikan jorok karena kegemarannya berkubang dalam lumpur. Tidak heran jika ada pasangan yang tidak sah juga diasosiasikan seperti kerbau karena mereka (melakukan) kumpul kebo.

Namun dalam beberapa budaya kerbau mendapat penghormatan yang tinggi. Kita bisa melihat kebudayaan Minangkabau, Toraja, bahkan Jawa. Kalau Anda jalan-jalan ke Bali dan mengunjungi Desa Tenganan, maka akan dijumpai kerbau-kerbau yang dibiarkan bebas berkeliaran di dekat rumah-rumah penduduk. Kerbau menjadi binatang yang tidak boleh diganggu karena dihormati. Dalam ragam kebudayaan tersebut ada berbagai cerita menarik tentang kerbau. Kerbau sebagai binatang juga mengajarkan sesuatu kepada manusia.
Tak ada salahnya jika kita melihat hal-hal baik yang dapat diambil dari seekor kerbau yang ternyata tidak selalu berkonotasi kotor dan dipandang sebelah mata. Sekaligus sambil bernostalgia ke masa lalu, ke alam pedesaaan dengan sawah menghijau dan hewan ternak yang menghiasinya.

Kerbau, Status Sosial dan Simbol Budaya
Dalam masyarakat agraris kerbau mendapatkan tempat yang khusus. Para petani biasa memelihara kerbau sebagai sarana untuk pertanian mereka. Dengan kerbau pekerjaan mengolah sawah menjadi ringan. Petani tidak perlu mengeluarkan energi mencangkul sawahnya karena dengan kerbau sebagai penghela tanah dapat dibajak. Tak jarang pula di masa lalu kerbau menjadi alat penarik gerobak (pedati) untuk mengangkut hasil pertanian.

Kerbau juga menjadi tanda kesejahteraan seorang petani. Semakin banyak kerbau yang ia miliki melambangkan kekayaan yang ia punya. Kerbau, sebagaimana dalam masyarakat Toraja menunjukkan status sosial seseorang. Kerbau menjadi alat transaksi yang bernilai tinggi. Hal ini sama halnya dengan sapi dalam masyarakat Madura, atau babi dalam beberapa kebudayaan di Papua.

Cerita rakyat dalam masyarakat Minangkabau menigsahkan bagaimana kerbau nenek moyang mereka mengalahkan kerbau bangsa Jawa yang lebih gagah dan berani. Kerbau Minangkabau yang diajukan sebagai lawan bertanding adalah anak kerbau yang tiga hari tidak menyusu. Anak kerbau itu telah dipasang pisau tajam (taji) di moncongnya sehingga ketika berhadapan dengan kerbau Bangsa Jawa terburailah kerbau bangsa Jawa karena dikira induk yang bisa disusui. Maka dikenallah Minangkabau (Manang Kabau), kerbau yang menang.

Dalam masyarakat Toraja pula kerbau (disebut tedong, kerembau) menunjukkan status sosial pemiliknya sekaligus mendapat peran yang sentral dalam setiap upacara dan pesta adat baik itu transaksi perkawinan, pewarisan, maupun pesta mati. Dalam upacara pemakaman diadakan penyembelihan kerabu yang biasanya jumlahnya banyak. Hal ini melambangkan bahwa kekayaan orang yang meninggal dibagikan kepada orang-orang yang ditinggalkan di dunia.

Setiap malam 1 Sura, di Keraton Surakarta selalu diadakan kirab pusaka yang pengiringnya (cucuk lampah) adalah kerbau bule. Kerbau tersebut diberi nama Kerbau Kyai Slamet. Pusaka dan kerbau menjadi lambang keselamatan. Adanya kirab pusaka menunjukkan lambang pengaharapan akan keselamatan sehingga masyarakat yang mengikuti beroleh keselamatan. Kerbau yang adalah lambang kekuatan dan kekayaan petani, dalam tradisi kirab pusaka tersebut menunjukkan legitimasi keraton atas rakyatnya yang sebagian besar adalah petani. Keraton melindungi dan memberi pengaharapan akan kesejahteraan rakyatnya.

Kebijaksanaan Kerbau
Kerbau juga termasuk dalam salah satu shio penanggalan Cina. Dan tahun 2009 adalah tahun ber-shio kerbau. Karakteristik shio kerbau ini adalah kemakmuran lewat keuletan dan kerja keras. Orang ber-shio kerbau bersifat sabar dan pekerja keras; mereka mendekati sebuah pekerjaan dengan langkah demi langkah yang menurut mereka terbaik, dan mereka tidak pernah kehilangan fokus terhadap tujuannya.

Karakteristik tahun kerbau ini sesuai dengan harapan bangsa ini yang masih berjuang demi kesejahteraan bersama. Perlu sebuah watak keuletan dan kerja keras seperti kerbau agar bangsa Indonesia bisa segera bangkit. Menarik untuk mengamati orang yang orang yang lahir dengan Shio Kerbau antara lain Putri Diana, Margaret Thetcher, Anthony Hopkins, Jim Carrey, Charlie Chaplin, Meg Ryan. Mereka dapat menjadi contoh dan inspirasi sebagai pribadi yang berpengaruh dan memberikan sumbangan bagi masyarakat dan dunia.

AA. Navis dalam cerita pendeknya, Bertanya Kerbau pada Pedati, membela kerbau sebagai binatang yang dapat memberontak. Dikisahkan, kerbau yang selalu dibebani beban berat menarik pedati yang berisikan barang kulakan dagangan sampai terberak-berak namun mereka berani berontak dengan keadaannya. AA. Navis menegaskan Zaman ini zaman revolusi, zaman perang kemerdekaan, di mana aku terlibat. Maka tidak ada suatu alternatif lain dalam pikiranku, bahwa hanya pemberontakanlah yang dapat mengatasi siksaan. Demi melihat kerbau itu begitu tersiksanya, dengan marah aku berteriak: “kalau kau manusia, berontaklah.” ” (AA. Navis, 2005, hlm. 469)

Kerbau tidak selalu identik dengan binatang yang bodoh dan jorok. Peranan kerbau dalam kehidupan masyakarat agraris menunjukkan bahwa kerbau adalah binatang yang sangat dibutuhkan. Aneka kebudayaan menunjukkan keluhuran kerbau seabgai hewan yang bermakna dan berharga.

Dalam kehidupan masyarakat agraris, anak-anak menggembalakan kerbau orang tua mereka di padang. Anak-anak gembala itu duduk sambil bermain-main menunggui kerbau-kerbau keluarga mereka yang sedang merumput atau memamah biak. Nostalgia alam pedesaan ini mengingatkan kita akan lambang penerbit KOMPAS dengan anak gembala di atas punggung kerbau. Di atas punggung kerbau yang sedang digembalakan di ladang anak dapat memperoleh kebebasan dalam dunianya menikmati indahnya alam sambil memainkan serulingnya menyanyikan lagu kehidupan. Ah… andai masa seperti itu masih ada.